Saling Memberi Syafaat di Akhirat l Ustadz Anas Burhanuddin, M.A.

by admin
0 comment

Syafaat Pada Hari Kiamat

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā
ālihi wa ash hābihi ajma’in
.••
Saling Memberi Syafaat di Akhirat-U st Anas Burhanudin 16mb
https://drive.google.com/…/1tclmkjPofrX0Q_WK53IgZSJSC…/view…
Syafaat yang boleh dan dilarang – Ustadz Lalu
Ahmad Yani, Lc..webm
https://app.box.com/s/em3an79uah4b223hxm5llcytlt61ypgh
Hanya Allah Pemberi Syafaat-Ust.Lalu Ahmad Yani.webm
https://app.box.com/s/gcnuiepad9cytq9qo57nydi73qx2sl7q
.
Ebook
Syafaat Kubra
https://d1.islamhouse.com/…/ih…/single2/id_Syafaat_Kubra.pdf
Hakikat Syafa’at
https://d1.islamhouse.com/…/…/single2/id_Hakikat_Syafaat.pdf
Bekal Terbaik Demi Menyongsong Kehidupan Akhirat
https://d1.islamhouse.com/…/…/single/id_terjemahan_fikri.pdf

==
 Mengharap Syafaat Pada Hari Kiamat
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga
hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah
menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/…/mengharap-sy…/
.==
 Mengharap Syafaat Pada Hari Kiamat
.
Setiap muslim pasti mengharapkan syafaat di akhirat nanti. Dia berharap agar pada hari tersebut syafaat bermanfaat baginya. Sungguh, alangkah sengsaranya seorang yang pada hari tersebut terhalang untuk mendapatkan syafaat.
.
Memang tidak semua orang pantas mendapatkan syafaat. Hanya orang yang memenuhi syarat yang bisa mendapatkan syafaat di akhirat.
.
 Allah ‘azza wa jalla mengabarkan keadaan mereka ini dalam firman-Nya,

.
فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ٤٨
.
“Tidaklah bermanfaat bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.”(al-Muddatstsir: 48)
.
 Apa Itu Syafaat?
.
 Syafaat adalah menjadi perantara bagi yang lain untuk mendapatkan manfaat atau menolak mudarat. Contohnya, syafaat untuk mendatangkan kebaikan, syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi penduduk surga agar mereka memasukinya.
.
 Contoh syafaat agar terhindar atau selamat dari kejelekan adalah syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi mereka yang pantas dimasukkan neraka sehingga tidak masuk neraka. (al-Qaulul Mufid, 1/203)
.

 Hakikat Syafaat
.
Allah ‘azza wa jalla memberikan karunia kepada seorang yang ikhlas, mengampuninya melalui perantaraan doa orang yang diberi izin memberi syafaat, dalam rangka memuliakannya dan agar meraih maqaman mahmuda. (Kitab at-Tauhid)
Jadi, syafaat adalah karunia dan keutamaan yang Allah ‘azza wa jalla berikan bagi yang diberi syafaat.
.
Adapun yang memberi syafaat, Allah ‘azza wa jalla ingin memuliakannya dan menampakkan keutamaannya di hadapan hamba Allah ‘azza wa jalla yang lain.
.
 Siapakah yang Akan Memberikan Syafaat?
.
Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa para malaikat, para nabi, dan orang-orang beriman akan memberikan syafaat.
.
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلاَّ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
.
“Malaikat memberikan syafaat, para nabi dan kaum mukminin memberi syafaat, tidak ada lagi kecuali Dzat Yang Paling Penyayang….” (Shahih Muslim, hadits no. 302)
.
Seorang yang syahid, meninggal di medan jihad, memiliki kesempatan memberikan syafaat bagi tujuh puluh orang kerabatnya.
.
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِن الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ
.
“Seorang mati syahid mendapatkan enam keutamaan di sisi Allah:
(1) mendapatkan ampunan sejak pertama kali meninggal dan melihat tempatnya di surga,
(2) dijaga dari azab kubur,
(3) diberi keamanan dari rasa takut yang besar,
(4) akan diletakkan di kepalanya mahkota kemuliaan dari yaqut (batu permata) yang nilainya lebih baik daripada dunia dan isinya,
(5) akan dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan
(6) akan diterima (permintaan) syafaatnya bagi tujuh puluh orang kerabatnya.” (HR . Ibnu Majah dan at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib)
.
 Macam-Macam Syafaat

.
 Ahlus Sunnah meyakini bahwa syafaat yang ada sangatlah banyak. Ada syafaat yang khusus dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada juga yang dilakukan oleh selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
 Asy-Syafaatul ‘Uzhma (syafaat teragung)
.
 Syafaat ini khusus dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syafaat ini disepakati keberadaannya. Ketika manusia merasakan dahsyatnya Padang Mahsyar, mereka mendatangi Nabi Adam ‘alaihissalam, Nabi Nuh ‘alaihissalam, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Musa ‘alaihissalam, dan Nabi Isa ‘alaihissalam. Namun, mereka semua tidak bersedia. Akhirnya manusia datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
 Syafaat bagi penduduk surga untuk masuk surga
 Syafaat bagi penduduk surga untuk ditinggikan derajatnya di surga
 Syafaat bagi ahli tauhid yang berada di neraka agar keluar darinya
 Syafaat bagi satu kaum yang pantas masuk neraka agar tidak masuk neraka
 Syafaat khusus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, hingga dia diringankan azabnya. (I’anatul Mustafid, 1/239—240)
.
 Siapakah yang Berhak Mendapatkan Syafaat?
.
 Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan bahwa syafaat hanyalah didapatkan oleh orang yang ikhlas dan dengan izin Allah ‘azza wa jalla.
.
Syafaat tidak akan didapat oleh orang-orang yang menyekutukan Allah ‘azza wa jalla.
.
 Syafaat di akhirat hanya akan didapat dengan dua syarat:
.
 1. Izin dari Allah ‘azza wa jalla bagi syafi’ (orang yang memintakan syafaat)
.
 2. Adanya ridha Allah ‘azza wa jalla bagi orang yang dimintakan syafaat untuknya
.
 Allah ‘azza wa jalla berfirman,
.
مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ
.
“Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)
.
وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ
.
“Mereka tidak akan memberi syafaat kecuali bagi orang yang diridhai-Nya.”(al-Anbiya’: 28)
.
 Khawarij Mengingkari Syafaat
.
Ada dua kelompok tersesat dalam masalah
syafaat.
.
 Kelompok yang ghuluw (berlebihan) menetapkannya, hingga menjerumuskan mereka ke dalam kesyirikan dengan alasan mengharapkan syafaat.
.
 Kelompok yang mengingkari syafaat selain syafaat ‘uzhma.
.
Mereka mengingkari syafaat yang lain, terkhusus syafaat bagi muslim pelaku dosa besar yang telah masuk neraka. Merekalah kelompok wai’diyah dari kalangan Khawarij, Mu’tazilah, dan lainnya.
.
Keyakinan bid’ah tersebut menjemuskan mereka kepada kesesatan yang berikutnya, yakni mengingkari syafaat bagi mukmin yang melakukan dosa besar dan syafaat bagi mukmin yang telah masuk neraka.
.
 Khawarij menyatakan bahwa seorang muslim yang melakukan dosa besar telah kafir dan kekal di neraka. Mereka pun menolak sekian banyak hadits yang menerangkan adanya orang muslim yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya dan dimasukkan ke dalam surga.
.
Al-Imam Muslim rahimahullah membawakan satu kisah tentang masalah ini dari seseorang yang bernama Yazid al-Faqir.
.
 Dahulu aku terpengaruh syubhat pemikiran Khawarij. Kami berangkat melakukan ibadah haji, kemudian keluar (mendakwahkan paham Khawarij) kepada manusia.

.
Ketika itu kami melewati kota Madinah. Kami dapati di sana ada seorang yang bersandar di tiang masjid sedang menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata beliau menceritakan tentang jahanamiyin (penduduk neraka jahannam). Aku pun berkata, “Wahai sahabat Rasulullah, apa yang engkau sampaikan ini? Bukankah Allah ‘azza wa jalla berfirman,

.
رَبَّنَآ إِنَّكَ مَن تُدۡخِلِ ٱلنَّارَ فَقَدۡ أَخۡزَيۡتَهُۥ
.
‘Wahai Rabb kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka berarti telah Engkau hinakan ….’ (Ali Imran: 192)
.
كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا
.
‘Ketika mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya….’ (as-Sajdah: 20)
.
 Apa yang engkau sampaikan ini?” Sahabat tersebut berkata, “Apakah engkau bisa membaca al-Quran?”
Aku (Yazid) berkata, “Ya.”
Sahabat tersebut berkata, “Tidakkah engkau membaca maqam (kedudukan) yang Allah ‘azza wa jalla akan berikan kepada Nabi kita?”
Aku (Yazid) berkata, “Ya.”
.
 Sahabat tersebut berkata, “Itulah kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terpuji. Dengan sebabnya, Allah ‘azza wa jalla mengeluarkan orang dari neraka.”
.
Kemudian beliau menyebut sifat dipancangkannya shirath dan melintasnya manusia di atas shirath tersebut….”
.
 Sampai ucapan Yazid al-Faqir, “Demi Allah, ketika kami kembali, tidak ada lagi di antara kami yang berpemikiran Khawarij kecuali satu orang saja.” (Shahih Muslim no. 320)
.
 Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran.
.
 1. Khawarij mengingkari syafaat bagi seorang muslim yang masuk neraka. Sebab, mereka meyakini bahwa seorang pelaku dosa besar adalah kafir dan akan masuk neraka lantas kekal di dalamnya.

.
 2. Keutamaan bermajelis dengan ulama.
Kita lihat Yazid al-Faqir selamat dari kebid’ahan Khawarij dengan sebab bertemu dan mendengar ilmu dari seorang yang berilmu.
.
 3. Ahlul batil bersemangat menyebarkan akidah sesat mereka, memanfaatkan setiap kesempatan. Karena itu, seharusnya Ahlus Sunnah bersemangat berdakwah menyampaikan al-haq kepada umat.
.
 4. Dalam kisah ini ada bukti bahwa satu kesesatan akan menyeret pada kesesatan lainnya.

.
Ketika mereka menyatakan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, mereka pun mengingkari syafaat-syafaat yang disebutkan oleh dalil-dalil..
 Memperkuat Akidah untuk Meraih Syafaat
.
Syafaat semuanya milik Allah ‘azza wa jalla.

.
 Allah ‘azza wa jalla berfirman,
.
قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ
.
“Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)

.
Hendaknya seorang mencari syafaat dengan jalan yang Allah ‘azza wa jalla syariatkan. Allah ‘azza wa jalla menerangkan, syafaat didapat seseorang jika Allah ‘azza wa jalla meridhainya dan memberi izin kepada yang syafi’ (yang memintakan syafaat untuknya).
.
 Allah ‘azza wa jalla berfirman,
.
وَكَم مِّن مَّلَكٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغۡنِي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيًۡٔا إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ ٢٦
.
“Betapa banyak malaikat di langit, tidaklah syafaat mereka bermanfaat kecuali setelah Allah memberi izin untuk orang yang Allah kehendaki dan Allah ridhai.” (an-Najm: 26)
.
Orang yang diridhai untuk diberi syafaat adalah muwahid (seorang yang bagus tauhidnya), sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayim rahimahullah.

.
 Oleh karena itu, kita harus meningkatkan kualitas ibadah kita dan menguatkan tauhid kita. Itulah sebab kebahagiaan seseorang sehingga bisa meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
 Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang paling bahagia dengan syafaat beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,

.
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
.
“Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘la ilaha illallah’ secara ikhlas dari kalbunya.” (HR . al-Bukhari. 99)
.
 Adapun syafaat yang diharapkan oleh para penyembah kubur adalah syafaat yang batil.
.
Tidak mungkin mereka mendapatkan syafaat dalam keadaan terus melakukan kesyirikan kepada Allah ‘azza wa jalla.
.
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللهُ مَن مَاتَ مِنْ أُمَّتِي يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا
.
“Semua nabi memiliki doa yang mustajab. Semua nabi menyegerakan doa mustajab mereka. Adapun aku menyimpannya untuk umatku sebagai syafaat bagi mereka, dan itu akan didapat oleh umatku yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatu pun.” (HR . Muslim no. 338)
.
 Sebab-Sebab Mendapat Syafaat
.
Marilah kita bersemangat untuk melakukan sebab mendapatkan syafaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan kepada kita amalan-amalan yang bisa menjadi sebab mendapatkan syafaat.
.
Di antara yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan:
.
 Perhatian dengan al-Qur’an
.
 Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِه
.
“Bacalah al-Qur’an, karena al-Qur’an akan menjadi pemberi syafaat bagi yang membaca dan mengamalkannya pada hari kiamat nanti.” (HR . Muslim)
.
 Berdoa setelah mendengar azan
.
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mendengar azan kemudian membaca,

.
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ
.
maka telah tetap syafaatku untuk dia di hari kiamat.” (HR . al-Bukhari no. 614)
.
Bacaan Setelah Adzan
.
اَللَّهُمَّ رَبَّ هَـٰذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ
.
Allaahumma robba haadzihid-da’watit-taammah, wash-sholaatil qoo-imah, aati muhammadanil wasiilata wal fadhiilah, wab’ats-hu maqooman mahmuudanil-ladzii wa ‘adtah.
.
Ya Allah, Tuhan Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah Al-Wasilah (derajat di Surga, yang tidak akan diberikan selain kepada Nabi) dan fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkan beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan.
HR. Al-Bukhari 1/152.
.
 Tinggal di Madinah dengan sabar hingga meninggal
.

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
لاَ يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلاَّ كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا
.
“Tidaklah seorang bersabar dari kesulitan dan kelaparan di Madinah sampai meninggal, kecuali aku akan menjadi pemberi syafaat atau saksi baginya pada hari kiamat, jika dia seorang muslim.” (HR . Muslim no. 3405)
.
 Dishalati oleh ahli tauhid
.
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِا شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ ا فِيهِ
.
“Tidaklah seorang muslim meninggal kemudian jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatupun, niscaya Allah ‘azza wa jalla menerima syafaat mereka pada orang tersebut.” (HR . Muslim no. 2242)
.
Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi kemudahan kepada kita untuk mendapatkan syafaat di hari kiamat nanti.
Ditulis oleh al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak
.
asysyariah.com
.==
 Tentang Syafaat
.
Alhamdulillah
.
Sesungguhnya masalah syafa’at termasuk pembahasan penting yang wajib diketahui oleh seorang muslim karena beberapa sebab:
1. Masalah ini termasuk cabang iman kepada hari akhir yang merupakan rukun iman
2. Mempelajarinya akan menambah iman dan cinta kita kepada Allah dan rasul-Nya
3. Mengenal luasnya rahmat Allah kepada hamba-Nya, kasih sayang rasulullah kepada umatnya dan agungnya agama Islam
4. Banyaknya penyimpangan dalam masalah ini sehingga menjerumuskan manusia kepada kesyirikan
5. Perhatian para ulama tentang masalah ini, karena mereka selalu membahasnya dalam kitab-kitab mereka, bahkan ada yang membukukannya secara khusus[1]
.
Tulisan ini adalah pembahasan ilmiah secara sistematis dengan harapan agar kita memahami masalah ini secara gamblang
.
 Definisi Syafa’at
.
 Syafa’at secara bahasa adalah genap lawan kata ganjil.[2] Disebut demikian karena dia yang awalnya ganjil tetapi setelah bergabung dengan pemilik hajat maka menjadi genap.[3] Ar-Raghib al-Asfahani Rahimahullah berkata, “Bergabung dengan lainnya sebagai penolong baginya. Dan paling sering digunakan untuk bergabungnya yang lebih mulia kedudukannya kepada yang lebih rendah, di antaranya adalah syafa’at pada hari Kiamat.”[4]
.
Adapun definisinya secara istilah adalah memintakan untuk orang lain agar mendapatkan manfaat atau terhindar dari mudarat.[5]
.
 Contoh untuk mendapatkan manfaat adalah syafa’at Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada penduduk surga agar lekas memasukinya. Sementara itu, contoh untuk menolak mudarat adalah syafa’at Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bagi orang yang berhak masuk neraka agar tidak memasukinya.
Tujuan dari syafa’at adalah: (1) untuk memuliakan pemberi syafa’at, (2) untuk memberikan manfaat kepada yang diberi syafa’at.[6]
.
 Dalil-Dalil Syafa’at
.
Syafa’at ditetapkan dalam al-Qur‘an, hadits, dan ijma’. Perinciannya sebagai berikut:
.
 Dalil al-Qur‘an

.
يَوْمَئِذٍۢ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَـٰعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَرَضِىَ لَهُۥ قَوْلًۭا ١٠٩
.
Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS Thaha [20]: 109)
.
وَكَم مِّن مَّلَكٍۢ فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ لَا تُغْنِى شَفَـٰعَتُهُمْ شَيْـًٔا إِلَّا مِنۢ بَعْدِ أَن يَأْذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرْضَىٰٓ ٢٦
.
Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai(Nya). (QS an-Najm [53]: 26
.
 Dalil Hadits
.
 Hadits-hadits tentang syafa’at banyak sekali banyak mencapai derajat mutawatir[7], di antaranya adalah:

.
أَسْعَدُ اْلنَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
.
“Orang yang paling berbahagia memperoleh syafa’atku pada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘La ilaha illa Allah’ ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR Bukhari: 99, 6570)
.
 Dalil Ijma’
.
 Berdasarkan dalil-dalil di atas, para ulama bersepakat mengimani syafa’at, bahkan menjadikan hal ini sebagai salah satu pokok aqidah mereka.[8] Al-Allamah Hafizh al-Hakami mengatakan, “Syafa’at adalah haq (benar adanya), diimani oleh seluruh Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana diimani oleh para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.”[9] Ijma’ ini dinukil oleh banyak ulama.[10] Oleh karenanya, hampir tidak ada satu kitab pun yang membahas tentang aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang ditulis oleh ulama-ulama salaf kita kecuali ada pembahasan tentangnya. Maka alangkah menariknya ucapan Sahabat Anas bin Malik Radhialllahu ‘Anhu, “Barangsiapa mendustakan syafa’at, maka dia tidak mendapatkan bagian dari syafa’at.”[11
.
 Syarat-Syarat Syafa’at
.
Syafa’at memiliki dua syarat yang harus terpenuhi, jika salah satunya tidak terpenuhi maka tidak akan terwujud syafa’at, yaitu[12]:
.
 Pertama: Izin Allah kepada pemberi syafa’at
Hal ini berdasarkan firman Allah:
.
مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ
.
Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. (QS al-Baqarah [2]: 255)
.
وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَـٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُۥ ۚ
.
Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu. (QS Saba‘ [34]: 23)
.
 Kedua: Ridha Allah terhadap orang yang memberi syafa’at dan yang diberi syafa’at, di mana dia termasuk ahli tauhid yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
.
 Hal ini berdasarkan firman Allah:
.
يَوْمَئِذٍۢ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَـٰعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَرَضِىَ لَهُۥ قَوْلًۭا ﴿١٠٩﴾
.
Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS Thaha [20]: 109)
.
وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرْتَضَىٰ
.
Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah. (QS al-Anbiya‘ [21]: 28
.
Jadi, syafa’at kelak pada hari Kiamat tidak terwujudkan kecuali bagi siapa yang diizinkan oleh Allah dan diridhainya. Sampai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sekalipun, beliau tidak bisa memberikan syafa’at begitu saja kecuali setelah diizinkan oleh Allah, sebagaimana dalam hadits yang panjang tentang syafa’at,
.
 Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
.
فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّي فَيُؤْذَنُ لِي وَيُلْهِمُنِي مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا

.
“Maka aku meminta izin kepada Rabbku, lalu diizinkan bagiku, dan Allah memberikan ilham kepadaku berupa pujian-pujian kepada-Nya sehingga aku memuji Allah dengannya.” (HR Bukhari 8/200, Muslim 1/180)
.
 Dan Allah tidak ridha kecuali kepada ahli tauhid, sebagaimana dalam hadits:
.
أَسْعَدُ اْلنَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
.
“Orang yang paling berbahagia memperoleh syafa’atku pada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘La ilaha illa Allah’ ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR Bukhari: 99, 6570)
.
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini terdapat rahasia pentingnya tauhid, sebab syafa’at hanya diperoleh dengan pemurnian tauhid, siapa yang sempurna tauhidnya, maka berhak mendapat syafa’at, bukan dengan syirik seperti yang dilakukan mayoritas orang.”[13]
.
 Macam-Macam Syafa’at
.
Syafa’at terbagi menjadi dua macam:
.
 Pertama: Syafa’at yang ditetapkan
.
 Allah banyak menyebutkan dalam al-Qur‘an penetapan syafa’at setelah mendapatkan izin dan ridha Allah, seperti dalam firman-Nya:

.
وَكَم مِّن مَّلَكٍۢ فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ لَا تُغْنِى شَفَـٰعَتُهُمْ شَيْـًٔا إِلَّا مِنۢ بَعْدِ أَن يَأْذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرْضَىٰٓ ٢٦
.
Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai(Nya). (QS an-Najm [53]: 26)
.
 Kedua: Syafa’at yang ditiadakan
.
 Dalam ayat-ayat lain, Allah meniadakan syafa’at, karena itu adalah syafa’at yang batil yaitu syafa’at syirik, seperti dalam firman Allah:
.
فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِينَ ﴿٤٨
.
Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at. (QS al-Muddatstsir [74]: 48)
.
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ سُبْحَـٰنَهُۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴿١٨
.
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS Yunus [10]: 18)
.
 Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah mengatakan, “Syafa’at yang dibatalkan adalah syafa’at syirik, karena tidak ada sekutu bagi Allah. Adapun syafa’at yang ditetapkan adalah syafa’at hamba yang tidak dapat memberi syafa’at dan tidak maju di hadapan Allah sehingga Dia mengizinkannya seraya mengatakan: ‘Berilah syafa’at kepada fulan.’ Oleh karenanya, orang yang paling bahagia dengan syafa’at Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kelak pada hari Kiamat adalah ahli tauhid yang memurnikan tauhid hanya kepada Allah dan membersihkannya dari noda-noda syirik.”[14]
.
 Syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
.
Syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terbagi menjadi dua macam:
.
 Pertama: Syafa’at beliau yang khusus untuk dirinya pribadi
.
 Kedua: Syafa’at yang umum, untuk dirinya dan lainnya juga dari para nabi dan orang shalih.[15]
.
Berikut penjelasannya secara lebih terperinci:
.
 A. Syafa’at khusus
Syafa’at yang khusus untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah sebagai berikut:
.
 1. Syafa’at uzhma (sangat besar)
.
Yaitu syafa’at beliau kepada manusia dari dahsyatnya hari itu agar disegerakan hisab dan pengadilan Allah, di mana manusia telah meminta kepada Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa, namun mereka semua udzur, lalu mereka meminta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian beliau memohon syafa’at kepada Allah dan dikabulkan.[16]

.
Syafa’at ini adalah syafa’at yang paling utama dan mencakup umum untuk semua makhluk apa pun agamanya. Syafa’at jenis ini disepakati ulama tentang kebenarannya.
.
 Di antara dalilnya adalah firman Allah:
.
وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةًۭ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًۭا مَّحْمُودًۭا ﴿٧٩
.
Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS al-Isra‘ [17]: 79)
.
 Imam Ibnu Jarir ath-Thabari Rahimahullah mengatakan, “Mayoritas ahli ilmu menjelaskan bahwa maksud maqam (kedudukan) terpuji dalam ayat ini adalah kedudukan beliau pada hari Kiamat untuk memberikan syafa’at saat manusia merasakan dahsyatnya hari itu.”[17]
.
 2. Syafa’at beliau terhadap penduduk surga untuk masuk surga setelah selesai hisab
.
 Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik Rahimahullah beliau mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
.
آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ مَنْ أَنْتَ فَأَقُولُ مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لأَحَدٍ قَبْلَكَ
.
“Saya datangi pintu surga pada hari Kiamat lalu aku minta dibukakan, lantas Khazin (Malaikat penjaga) berkata: ‘Siapa kamu?’ Aku menjawab: ‘Muhammad.’ Lantas dia mengatakan: ‘Untukmu aku diperintahkan agar tidak membukakan pintu kepada seorang pun sebelummu.’” (HR Muslim 1/188)

.
 3. Syafa’at untuk meringankan siksaan pamannya yaitu Abu Thalib
.
 Hal ini berdasarkan hadits Abbas bin Abdul Muththalib bahwasanya dia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:
.
يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَفَعْتَ أَبَا طَالِبٍ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ قَالَ نَعَمْ هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ لَوْلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الْأَسْفَلِ مِنْ النَّارِ
.
“Ya Rasulullah, apakah engkau memberikan manfaat kepada pamanmu dengan sesuatu, sebab dia telah melindungimu dan marah untuk menjagamu?” Beliau menjawab, “Ya, di muka neraka, seandainya bukan karena saya (syafa’at saya) niscaya dia berada di paling dasar neraka.” (HR Bukhari 4/247, Muslim 1/195)
.

 Dan juga berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhialllahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallampernah disebut di sisinya Abu Thalib, paman beliau, maka beliau bersabda:

.
لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ يَغْلِي مِنْهُ دِمَاغُه
.
“Semoga syafa’atku bermanfaat baginya pada hari Kiamat, dia dijadikan di muka neraka hingga sampai kedua mata kakinya, memanas otaknya.” (HR Bukhari 7/203)

.
 B. Syafa’at Umum
Adapun syafa’at umum, untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan juga lainnya dari kalangan para nabi dan orang shalih adalah sebagai berikut:

.
 1. Syafa’at untuk mengangkat derajat sebagian ahli surga

.
 Di antara dalilnya adalah hadits Ummu Salamah Radhialllahu ‘Anha bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendo’akan untuk Abu Salamah Radhialllahu ‘Anhu tatkala dia meninggal dunia:

.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِى سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِى الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِى عَقِبِهِ فِى الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِى قَبْرِهِ. وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

.
“Ya Allah, ampunilah Abu Salamah dan tinggikanlah derajatnya bersama orang-orang yang diberi petunjuk, dan berilah penggantinya bagi anak-anaknya, ampunilah kami dan dia wahai Rabb semesta alam, lapangkanlah kuburnya dan sinarilah untuknya dalam kuburnya.” (HR Muslim 2/634)

.
 2. Syafa’at untuk masuknya sebagian kaum mukminin ke surga tanpa hisab

.
 Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Abu Umamah al-Bahili Radhialllahu ‘Anhu, beliau mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

.
وَعَدَنِي رَبِّي أَنْ يُدْخِلَ الجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعِينَ أَلْفًا لاَ حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلاَ عَذَابَ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفًا وَثَلاَثُ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِه

.
“Rabbku menjanjikanku untuk memasukkan ke surga tujuh puluh ribu umatku tanpa hisab dan tanpa adzab, bersama setiap seribu tambahan tujuh puluh ribu dan tiga cakupan-Nya.” (HR Tirmidzi 4/626 dan dishahihkan oleh al-Albani)

.
 3. Syafa’at untuk pelaku dosa besar

.
 Syafa’at jenis ini adalah syafa’at yang disepakati oleh ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah dari kalangan sahabat, tabi’in, seluruh imam empat, dan selainnya, namun diingkari oleh mayoritas ahli bid’ah dari Khawarij dan Mu’tazilah.

.
 Jenis syafa’at tersebut karena jenis itulah yang menjadi ajang pergulatan ilmiah antara Ahli Sunnah versus ahli bid’ah. Oleh karenanya pula, terkadang para ulama memutlakkan kata “syafa’at” pada jenis ini, dengan tujuan untuk membantah paham Khawarij dan Mu’tazilah.[18]

.
 Hadits-hadits tentang syafa’at jenis ini adalah derajatnya mutawatir[19]. Di antara dalilnya adalah:

.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ اْلنَّبِيَّ قَالَ: شَفَاعَتِيْ لأَهْلِ اْلكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِيْ

.
Dari Anas bin Malik Radhialllahu ‘Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Syafa’atku untuk pelaku dosa besar dari umatku.”[20]

.
 4. Syafa’at kepada kaum yang diperintahkan untuk dimasukkan ke neraka agar tidak masuk ke neraka

.
 5. Syafa’at kepada kaum yang sama antara kebaikan dan kejelekan mereka agar masuk surga.[21]

.
Insya Allah Bersambung
Oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi
.======
[1] Sebagian ulama membahasnya secara khusus seperti Imam adz-Dzahabi, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, Dr. Nashir al-Judai’, dan Syaikh Dr. Abdullah al-Ghufaili juga memiliki tulisan yang bagus tentang syafa’at, dimuat dalam Majalah al-Buhuts al-Islamiyyah edisi 64, 1422 H. Dan makalah ini banyak mengambil faedah darinya dan kitab as-Syafa’ah ’inda Ahli Sunnah oleh Dr. Nashir al-Judai’. Perhatikanlah!!
[2] Mu’jam Maqayis Lughah 3/201 karya Ibnu Faris
[3] Al-Jami’ li Ahkamil Qur‘an 5/295 oleh al-Qurthubi
[4] Al-Mufradat fi Gharibil Qur‘an hlm. 263
[5] Lihat Lawami’ul Anwar 2/204 oleh as-Saffarini, at-Ta’rifat hlm. 127 oleh al-Jurjani, an-Nihayah fi Gharibil Hadits 5/485 oleh Ibnul Atsir, Syarh Lum’atil I’tiqad hlm. 128 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.
[6] Al-Qaulul Mufid ’ala Kitab Tauhid 1/330 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
[7] Lihat as-Sunnah Ibnu Abi Ashim 2/399, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 1/314, Lawami’ul Anwar al- Bahiyyah oleh as-Saffarini 2/208.
[8] Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Abdil Barr dalam al-Istidzkar 8/136.
[9] Ma’arijul Qabul 2/256
[10] Lihat Risalah ila Ahli Tsaghar hlm. 90 oleh Abul Hasan al-Asy’ari, Syarh Muslim oleh an-Nawawi 3/35, ad-Dinul Khalish 2/22 oleh Shiddiq Hasan Khan.
[11] Diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam asy-Syari’ah hlm. 337, al-Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad 6/1110 dan dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/426.
[12] Lihat al-Ala‘i al-Bahiyyah fi Syarhi Aqidah al-Wasithiyyah 1/275 oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh.
[13] Tahdzib Sunan Abu Dawud 13/56—Aunul Ma’bud
[14] Ighatsatul Lahfan 1/220
[15] Majmu’ Fatawa 1/313
[16] Lihat Shahihul Bukhari 5/225
[17] Jami’ul Bayan 15/143–144
[18] Lihat Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah 1/286 oleh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi dan Syarh Lum’atil I’tiqad hlm. 129 oleh Syaikh Ibnu Utsaimin.
[19] Sebagaimana ditegaskan oleh para ulama ahli hadits, seperti Imam Ibnu Abi Ashim, Ibnu Abdil Barr, al-Qadhi Iyadh, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dll. (Lihat nukilan ucapan mereka dalam buku saya Membela Hadits Nabi hlm. 330–332, cet. Media Tarbiyah.
[20] Shahih. Lihat takhrijnya secara lengkap dan panjang dalam buku saya Membela Hadits Nabi hlm. 326–329.
[21] Dua jenis ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam an-Nihayah fil Fitan wal Malahim 2/204–206. Namun, hadits-hadits yang beliau bawakan tidak shahih dari Nabi n\. Dua syafa’at ini ditetapkan oleh an-Nawawi dalam Syarh Muslim 3/35, Ibnu Taimiyyah dalam Fatawa 3/147, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/428, dan as-Saffarini dalam Lawami’ul Anwar 2/211. Namun, Ibnul Qayyim tawaqquf (diam dan tidak menetapkan) dalam Tahdzibus Sunan 7/134 dan ini dikuatkan oleh Dr. Nashir al-Judai’ dalam asy-Syafa’ah ’inda Ahli Sunnah hlm. 59.
.
•••••••••••••••••••••••
_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_
.
_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_
.
Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia menjadikan tulisan ini murni mengharap Wajah-Nya Yang Mulia, dan agar ia bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi tabungan bagi hari akhir.
.
Saya memohon kepada Allah Ta’ala Agar menjadikan Tulisan ini amal soleh saat hidup dan juga setelah mati untuk saya dan untuk kedua orang tua saya juga keluarga saya dihari dimana semua amal baik dipaparkan
.
Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pahala, Kebaikan, Amal Shalih Pemberat Timbangan Di Akhirat Kelak. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.
Wa akhiru da’wanā ‘anilhamdulillāhi rabbil ālamīn Wallāhu a’lam, Wabillāhittaufiq
.
_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_

Related Posts

Leave a Comment